Salah Siapa?

Saat ini, hampir setiap negara ingin menjadi produsen, lalu negara mana yang akan menjadi negara konsumen (pasar)? Maka situasi ekonomi sekarang ini secara global sedang jenuh.

Negara hanya akan membeli sesuatu jika cuaca atau faktor alamnya tidak memungkinkan ketidaktersediaan bahan baku, teknologi dan sdmnya belum cukup.

Suplai and demand adalah hukum besi ekonomi yang alami. Ketersediaan barang yang berlimpah membawa harga ke level jenuh jual.

Contoh, jika buah naga ini hanya dijual di daerah maka tentu rentan oversold, lah penduduknya mayoritas petani buah naga dan populasinya kecil dibanding total produksi.

Organisasi seperti Kadin dan Hipmi harusnya memikirkan, membantu petani untuk dibawa ke jakarta atau ekspor maka harga psikologisnya berubah sesuai tujuan negara dari sisi populasi dan geografis.

Tugas dari kementrian perdagangan mencetak calon eksportir lebih banyak dan gratis. Bebas biaya plus dapat kartu importir. Negara hanya akan memungut pajak dari aktifitas ekspor import.

Komoditas holtikultura salah satu barang favorit yang diperdagangkan antar negara karena faktor geografis dan cuaca yang berbeda masingĀ² negara. Berbeda dengan pabrikasi buatan manusia.

Yang jadi masalah ketika jumlah importir jauh lebih banyak daripada eksportir. Biar kacamata dan celana dalam di impor juga kan terlalu.

Belajarlah dari negara Tiongkok semua jenis kebutuhan manusia di ekspor kemana-mana bahkan menguasai pasar arab saudi.

Solusi lain, petani tidak fokus hanya pada satu jenis sehingga bisa menghindari over produksi yang berdampak pada jatuhnya harga.

Kalau dibuang ke sungai, kufur nikmat namanya, malah bisa kena bencana alam sebagai peringatan dari Tuhan.