Politik dalam terminologi Bugis

Usiaku saat itu telah memasuki 25 tahun. Saya mulai terjun ke dunia politik. Sebelum mendaftar sebagai caleg untuk mengikuti pemilu tahun 2004, saya sempatkan mengunjungi Ayahandaku, untuk meminta restunya. Kami bercerita banyak hal, namun pembicaran tentang politik sangat membekas dalam ingatanku.

Saya: Rasanya ada keinginanku untuk terjun ke dunia politik.
Ayah: Mengapa kamu ingin mengerjakan hal seperti itu?
Saya: Saya ingin mengabdi untuk orang banyak.
Ayah: Tahu kah kamu apa itu politik?
Saya: Iye tahu, sembari saya paparkan teori2 politik.

Ayah: bukan teorinya, tapi perakteknya..
Saya: Ada apa dengan prakteknya?
Ayah: Makkadi tau riolo√©; iyya ro riaseng politik-√© “Belle-belle pammulanna, bali-bella pattengganna, melle-perru paccappurenna”..

Artinya: Orang-orang terdahulu mengatakan bahwa politik itu. Permulaannya adalah kebohongan. Pertengahannya (baca: pelaksanaannya) lain yang diucapkan, lain yang dikerjakan. Akhirnya adalah kesewenang-wenangan (tanpa perasaan).

Selain pandangan masyarakat Bugis, ada juga terminologi politik yang dipahami oleh bangsa Inggris “We have no eternal allies, and we have no perpetual enemies. Our interests are eternal and perpetual, and those interests it is our duty to follow”

Kami tidak memiliki sekutu abadi, dan kami tidak memiliki musuh abadi. Kepentingan kita yang abadi dan selamanya, dan kepentingan itulah yang harus kita ikuti.

Istilah politik tersebut dipopulerkan oleh mantan Perdana Menteri Inggris yang bernama Henry Jhon Temple disampaikan dalam pidatonya di House of Commons (Parlemen Inggris) pada Agustus 1844.

Jika kebanyakan orang terjun ke dunia politik dan mempraktekkan politik sebagaimana terminologi politik diatas, maka pertanyaannya adalah; dimana kita meletakkan moral sebagai entitas kemanusiaan kita?

Kesimpulan dari pembicaraan dengan ayahku waktu itu, bahwa beliau tidak melarang untuk terjun ke dunia politik, yang terpenting baginya adalah; bagaimana anaknya dapat menjadi orang yang bermanfaat. Pesannya;  “jadikanlah politik sebagai sarana untuk pengabdian kepada rakyat”, itu poinnya.

Politik belle-belle bukanlah merupakan sebuah doktrin yang diajarkan secara turun-temurun. Tapi sebuah bahasa perlawanan yang sangat halus disebut lecco-lecco ada(sindiran).kepada kekuatan struktur yang menindasnya.

Dalam perjalanannya bahasa perlawanan itu menjadi populer dan menjelma menjadi sebuah terminologi, karena mendapatkan banyak pembenaran dari elit lokal.

Kembali pada nasihat orang tua, sebagai bekal untuk masuk ke dalam dunia politik dan agar senantiasa terjaga dan tidak menjadi hina karena jabatan yang diperoleh, maka sangat dianjurkan untuk memiliki; Empat karakter dasar untuk membentuk watak politikus/negarawan sejati, yaitu; Macca’ na Malempu. Warani na Magetteng. Artinya; Cendekia lagi Jujur – Berani lagi Teguh dalam Pendirian. Itulah terminologi politik Bugis yang sebenarnya.


Credit Photo: http://anassalehe.blogspot.co.id/