Hoaks dan Gejolak Sosial

Tahun 2018 bagi saya merupakan tahun yang cukup rumit, saya prihatin melihat bangsa ini saling bertikai untuk tujuan-tujuan tertentu hingga mengorbankan rasa persaudaraan, ada nilai yang mulai terlupakan, yaitu tenggang rasa.

Kini kebebasan dimaknai seperti kuda liar tanpa tali kekang, penuh nafsu, seolah tidak etika dan perasaan dalam menyerang seseorang. Atas nama demokrasi, kebebasan ditafsirkan dengan berbicara seenaknya, menuduh seenaknya. Euforia politik sepert ini menjadi celah bagi para kapitalis untuk meruntuhkan sistem nilai kita. Lalu memanfaatkan jaringan sosial media dalam melakukan propaganda berupa hoaks.

**

Apa motif diciptakan hoaks? Dalam sistem pemilu yang demokratis seperti Indonesia. Citra diri sangat penting, pilihan rakyat akan jatuh kepada calon yang dipandang mampu mengayomi bangsa ini. Pemimpin yang seperti itu telah lama dicitrakan sebagai sosok pemimpin sejati dengan memiliki ciri; Ikhlas, Adil dan bijaksana. Hoaks diciptakan untuk mengaburkan atau memotong informasi yang sampai kepada masyarakat agar sebuah fakta dipahami secara terbalik sehingga seseorang dicitrakan negatif.

Saya tidak menampilkan contoh yang lebih detil bagaimana sebuah hoaks diciptakan lalu berdampak buruk dan menyebabkan hancurnya citra diri seseorang dimasa lalu. Saya akan menceritakan sepenggal kisah bagaimana hoaks pernah terjadi di masa lalu agar kita dapat bersama-sama mengambil hikmah, kata guru saya ini adalah hoaks pertama dalam Islam.

**

Pada suatu ketika di jaman Nabi ada sebuah perang dimana menantu nabi, Sayyidina Ali tidak diikutkan. Apa yang terjadi kemudian? Hoaks mulai menyebar, bahwa Ali sudah tidak disukai lagi oleh Nabi. Berita ini sampai pada Sayyidina Ali dan menjadi sedih mendengarnya.

Ada pun maksud Nabi tidak mengikutkan Sayyidina Ali dalam perang tersebut karena untuk berjaga-jaga, karena selain nabi, yang hafal Al-Quran dan memahami tafsirannya secara utuh waktu itu adalah Sayyidina Ali. Akhirnya, keluarlah sebuah hadist dari nabi untuk mengklarifikasi hoaks tersebut “Ketahuilah bahwa kedudukan Ali disisiku seperti kedudukan Harun disisi Musa”.Untuk membentengi diri kita dari hoaks, maka sebaiknya merujuk pada pesan moral yang disampaikan oleh Sayyidina Ali “Jarak kebenaran dan kebohongan hanya satu jengkal”.Saat mengucapkan pesan moral tersebut, Sayyidina Ali meletakkan jari kelingkingnya di matanya dan ibu jarinya di telinganya. Seraya melanjutkan perkataannya; Apa yang kamu lihat adalah kebenaran dan apa yang kamu dengar maka periksalah terlebih dahulu.

Untuk membentengi diri kita dari hoaks, maka sebaiknya merujuk pada pesan moral yang disampaikan oleh Sayyidina Ali “Jarak kebenaran dan kebohongan hanya dua jari”. Saat mengucapkan pesan moral tersebut, Sayyidina Ali meletakkan satu jari tanggannya di matanya dan jari satunya lagi di telinganya. Seraya melanjutkan perkataannya; Apa yang kamu lihat adalah kebenaran dan apa yang kamu dengar maka periksalah terlebih dahulu.

**

Lalu bagimana jika hoaks yang disebarkan oleh musang berbulu domba? Kadang pula saya menemukan orang-orang berkata; betul ini tawwa karena si fulan yang bilang. Tidak mungkin bohong si fulan, dia itu anu…

Sekali lagi maaf, saya ingin kembali mengingatkan bahwa nabi pernah berpesan “Lihat apa yang diucapkan jangan lihat siapa yang mengucapkan”. Saya akan menyederhanakan maknanya agar lebih mudah dipahami. Maksud dari hadis tersebut diatas adalah; periksa apa yang diucapkan, disebarkan, disampaikan. Jangan tertipu oleh siapa yang mengucapkan. Anda bisa menguji sesuatu yang dianggap benar dengan meminta bukti.