Happiness Habit

“We’ve entered an era where so many of the certainties and foundations of life are crumbling – relationships, jobs, communities. And whereas previous centuries brought epidemics of physical disease, the 21st century is experiencing an epidemic of stress & depression – overwork or no work, constant juggling, job insecurity, redundancy, divorce and the demands of caring for children and families. Whatever happened to work/life balance?” (Miriam Akhtar)

Nongkrong di Warkop/Cafe menikmati secangkir kopi bersama teman-teman telah menjadi trend masyarakat Indonesia saat ini, trend ini juga hinggap di Kolaka. Saya pun juga merupakan bagian dari masyatakat yang sering ngopi di Warkop/Cafe, dan sering pula saya ditemani Istri dan anak. Apakah suasana di rumah dan di Warkop berbeda? Jawabannya absolutely yes.
Selain suasananya yang berbeda, yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana menghilangkan kejenuhan hidup, apalagi belakangan ini trend bunuh diri juga terus meningkat akibat stress dan depresi yang disebabkan oleh berbagai problem, antara lain; tempat kerja, lingkungan tempat tinggal dan termasuk problem rumah tangga.
Kehidupan dalam rumah tangga ibaratnya bahtera yang mengarungi samudera yang luas, terpaan badai datang silih berganti. Sehingga dapat dikatakan kehidupan itu tidak melulu manis terkadang juga ada pahitnya.
Disinilah pentingnya membiasakan diri kita untuk menciptakan rasa bahagia, misalnya dengan cara mengalihkan fokus kita dari hal2 yang rumit yang sedang dihadapi dan menggantikannya dengan berbagai kegiatan yang sifatnya menyenangkan. Kegiatan ini biasanya disebut refreshing.
membawa keluarga di Warkop/Cafe merupakan cara sederhana untuk refreshing. Jangan menunggu uang terkumpul banyak agar dapat bersenang2. Menurut saya, tidak terlalu penting dimana kita refreshing, yang lebih penting adalah bagaimana menjadikannya sebagai sebuah gaya hidup agar kita terbiasa dengan suasana kebahagiaan.
Kita yang tinggal di belahan dunia Tropis hanya mengenal musim hujan dan kemarau, dan pada kedua musim itu kita tetap beraktivitas dan hidup terasa lebih berat dibandingkan dengan mereka yang tinggal belahan bumi Sub Tropis bagian Utara dan Selatan yang mengalami 4 musim, taruhlah misalnya di Jerman mereka memiliki hari libur resmi totalnya 6 minggu belum termasuk jumlah cuti 25-30 hari, mereka memiliki lebih banyak waktu libur dibandingkan dengan kita. Jadi sejatinya kita yang hidup di belahan dunia tropis mestilah banyak refreshing bersama keluarga disetiap akhir pekan.
Hakikat refreshing adalah untuk menciptakan kebahagiaan untuk diri kita, dan membawa serta keluarga ikut menikmati kebahagiaan itu merupakan sebuah cara untuk memcairkan kebekuan suasana yang terpasung oleh sebuah hirarki rumah tangga yang terbangun dalam sistem sosial kita. Suami, Istri dan Anak merupakan bentuk hirarki terkecil dalam unit masyarakat.
Di dalam rumah tangga juga ada norma yang bercorak kultur dan agama. Setiap permasalahan yang dihadapi memerlukan norma tersebut sebagai perangkat untuk menilai kepantasan dari perilaku kita. Dan hirarki berfungsi untuk menegakkan norma tersebut. Lalu, pernahkah kita bertanya kepada istri dan anak kita, apakah kita tidak mengatasnamakan norma untuk menindas/mendikte mereka?
Inilah yang dimaksud oleh Miriam Akhtar – psikolog positif dari Inggris yang menyatakan; “kita memasuki era dimana terlalu banyak ketentuan dan fondasi kehidupan menjadi hancur – hubungan, pekerjaan dan komunitas. Dan sementara pada abad sebelumnya membawa epidemi penyakit fisik. Abad ke 21 mengalami epidemi stress dan depresi – terlalu banyak kerja atau tidak bekerja, juggling konstan, redudansi, perceraian, dan tuntutan merawat anak dan keluarga. Apa yang terjadi dengan keluarga. Apa yang terjadi dengan pekerjaan/keseimbangan hidup?”
Oleh karena itu perlu ruang dan waktu untuk melepaskan atribut² itu sejenak agar kita dapat berinteraksi dalam suasana yang setara dan penuh tawa dan kebahagiaan. Tanpa banyak ketentuan.
Kita bisa melihat banyak orang dengan happiness habit yang berbeda-beda. Ungkapan kebahagiaan mereka bisa terlihat dari jenis minuman dan snack, serta topik pembicaraan yang banyak selingi dengan tawa. Dan jika sudah berada di Warkop, jangan lagi saling mengatur selera. Biarkan setiap orang dengan pilihan dan kebebasannya dalam memilih menu. Bila perlu, minta menu kepada pelayan yang tidak mencantumkan harga. Lalu katakan, pilih apa saja yang kamu suka.
Imam Ali berkata “Perhatikan pikiran²mu karena pikiranmu akan menjadi ucapanmu, perhatikan ucapan²mu karena ucapanmu akan menjadi perbuatanmu, perhatikan perbuatan²mu karena perbuatanmu akan menjadi nasibmu”
Apakah setiap orang dapat bahagia? Sekali lagi jawaban saya adalah absolutely yes.Kita hanya perlu me-refresh pikiran kita kepada hal² positif dan menjelmakannya menjadi sebuah perbuatan baik. Perbuatan baik akan melahirkan rasa bahagia.