Blog

Politik, dalam terminologi Bugis dan Inggris?

Makkadai tau rioloé; iyya ro riaseng politik-é “Belle-belle pammulanna, bali-bella pattengganna, melle-perru paccappurenna”  (Orang-orang terdahulu mengatakan bahwa politik itu; Diawali dengan kebohongan, pertengahannya (baca: pelaksanaannya) lain yang diucapkan, lain yang dikerjakan, akhirnya adalah kesewenang-wenangan (tanpa perasaan).

Saya pernah bercita-cita menjadi seorang Gubernur lalu pada tahun 2003, saat usiaku telah memasuki 25 tahun. Saya mulai berpikir untuk mewujudkannya dan mencoba meletakkan sebuah tonggak (milestone) sebagai sasaran antara untuk membangun reputasi dan integritas dimata publik melalui lembaga perwakilan rakyat/DPRD Provinsi. Sebelum mendaftar di salah satu Partai Politik, saya sempatkan mengunjungi Ayahandaku, untuk meminta restunya.
Setibanya di rumah orang tua kami bercerita banyak hal, namun pembicaran tentang politik sangat membekas dan masih utuh dalam ingatanku dan rasanya perlu dituangkan menjadi sebuah artikel. Kita langsung ke inti pembicaraanya saja, dialog saya sebagai berikut;
Saya: “Engka sedding pattujung-ku ma-politik” (rasanya ada keinginanku untuk berpolitik)
Ayah: “Manengka appakkaro elo mujama?” (Mengapa kamu mau mengerjakan hal seperti itu?)
Saya: “Makessing, wedding matu dibantu tau megae..”. (Bagus, kita dapat mengabdi untuk orang banyak).
Ayah: “Muisseng mo ga.. diaseng iya ro politik-é ?” (Tahu kah kamu apa itu politik?).
Saya: “Iyye wisseng” (Iya tahu) sembari saya paparkan teori2 politik, bahwa hakikat politik adalah bla… bla… bla… pokoknya semua yang indah2. Tak lupa saya mengutip pernyataan filsuf Yunani yang bernama Socrates “Segenggam kekuasaan lebih berharga dan sekeranjang kebenaran”. Dengan kekuasaan kita bisa mesejaterahkan masyarakat.
Ayah: “Tennia teorinna, peraktekna…” (bukan teorinya, tapi perakteknya)
Saya: “Magai paraktenna politik-é ? (Ada apa dengan politik praktis?)
Ayah: “Maja’ (buruk)
Saya: Aga pale’ ta pahangi parakte’na politik-é? (Apa yg kita pahami Politik Praktis)
Ayah: Makkadi tau rioloé; iyya ro riaseng politik-é “Belle-belle pammulanna, bali-bella pattengganna, melle-perru paccappurenna” (Orang-orang terdahulu mengatakan bahwa politik itu; Diawali dengan kebohongan, pertengahannya (baca: pelaksanaannya) lain yang diucapkan, lain yang dikerjakan, akhirnya adalah kesewenang-wenangan (tanpa perasaan).
Selain pandangan masyarakat Bugis, ada juga terminologi politik yang dipahami oleh masyarakat Inggris “We have no eternal allies, and we have no perpetual enemies. Our interests are eternal and perpetual, and those interests it is our duty to follow” (Kami tidak memiliki sekutu abadi, dan kami tidak memiliki musuh abadi. Kepentingan kita yang abadi dan selamanya, dan kepentingan itulah yang harus kita ikuti). Istilah politik ini dipopulerkan oleh mantan Perdana Menteri Inggris yang bernama Henry Jhon Temple disampaikan dalam pidatonya di House of Commons (Parlemen Inggris) pada Agustus 1844.


Jika kebanyakan orang terjun ke dunia politik dan mempraktekkan politik sebagaimana dalam terminologi Bugis tersebut diatas atau sebagaimana yang politik yang dipahami oleh masyarakat Inggris dan dunia saat ini, maka pertanyaannya adalah; dimana kita meletakkan moral sebagai entitas kemanusiaan kita?
Ali bin Abi Thalib  berkata “Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan”.
Apakah mesti politik itu saling menindas satu-sama lain?


Kesimpulan dari pembicaraan dengan ayahku waktu itu, bahwa beliau tidak melarang untuk terjun ke dunia politik, yang terpenting baginya adalah; bagaimana anaknya (saya) dapat menjadi orang yang bermanfaat. Pesannya adalah;  “jadikanlah politik sebagai sarana untuk pengabdian kepada rakyat”, itu poinnya.
Meskipun dalam pandangan masyarakat Bugis bahwa politikus itu rentan dengan perilaku buruk seperti; belle-belle, bali-bella, dan melle-perru tapi mesti dipahami bahwa itu merupakan sebuah sudut pandang, yang dalam pendekatan strukturalis disebut sebagai bahasa perlawanan/penolakan terhadap sebuah bentuk kekacauan. Jadi itu bukanlah merupakan sebuah doktrin yang diajarkan secara turun-temurun. Tapi sebuah bahasa perlawanan yang sangat halus disebut lecco-lecco ada (sindiran).
Dalam perjalanannya bahasa perlawanan itu menjadi populer seiring dengan gencarnya publikasi media di era digital ini dan politikus sebagai publik figur tentunya menjadi soroton utama. Alhasil, bahasa perlawanan tersebut yang semula hanyalah sebuah sindiran kemudian menjelma menjadi sebuah terminologi, karena mendapatkan semakin banyak pembenaran.
Kembali pada nasihat orang tua, sebagai bekal untuk masuk ke dalam dunia politik dan agar senantiasa terjaga dan tidak menjadi hina karena jabatan yang diperoleh, maka sangat dianjurkan untuk memiliki 4 karakter dasar untuk membentuk watak politikus/negarawan sejati, yaitu; Macca’ na Malempu – Warani na Magetteng. Yang artinya; Cendekia lagi Jujur – Berani lagi Teguh dalam Pendirian. Itulah terminologi politik Bugis yang sebenarnya. Artikel ini selain untuk menulis sepenggal kisah hidupku, juga sekaligus untuk meluruskan lecco-lecco ada yang telah terlanjur populer itu.
Jadi saya ingin mengatakan bahwa sikap masyarakat Bugis dan Inggris dalam berpolitik tidaklah sama dan sungguh jauh berbeda.
Masyarakat Bugis mengungkapkan istilah belle-belle, bali-bella, dan melle-perru sebagai sebuah sindirian kepada kekuatan struktur yang menguasainya/menindasnya. Sementara terminologi politik yang diajarkan oleh Henry Jhon Temple tersebut merupakan sebuah pikiran untuk menancapkan penindasan yang abadi ke seluruh penjuru dunia, tidak ada ke-setia-kawanan. Disitulah hakikat perbedaannya.
Oleh karena itu,  saya merasa ingin mengingatkan kepada generasi muda sebagai harapan bangsa Indonesia kedepan, agar tidak mengadopsi pandangan politik ala Inggris tersebut ke dalam budaya kita. Dan 4 karakter dasar tersebut mestilah terus diajarkan dari generasi ke generasi sehingga dapat membentuk mental negarawan yang baik.
Lalu, pada tahun 2004 saya ikut menjadi salah satu Calon Legilatif DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara, dengan sistem pemilihan semi terbuka, dimana saya harus berkompetisi dengan Ketua Partai sendiri yang menempati di nomor urut pertama, dan hasilnya saya gagal meraih 30% suara dari Bilangan Pembagi Pemilih (BPP). Saya dengan nomor urut 2 harus menerima kegagalan tersebut. Itulah pentingnya mendapatkan restu agar jika gagal tidak disesali dan jika berhasil bisa menjadi lebih baik.
-end-
Credit Photo: http://anassalehe.blogspot.co.id/
 

Tarif Listrik Indonesia Lebih Mahal dari Malaysia


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Serikat Pekerja PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengungkapkan tarif listrik Indonesia sampai sekarang lebih mahal dibanding negeri jiran, Malaysia. “Tarif listrik di Indonesia relatif mahal bila dibanding Malaysia karena dalam pemakaian tertentu hanya Rp 650 per kWh. Di sana tidak berdasarkan golongan tapi berdasarkan batas pemakaian. Di kita untuk pemakaian 900 VA sudah lebih Rp 1.300 per kWh. Ini sangat memberatkan masyarakat,” kata Ketua serikat Pekerja PLN, Jumadis Abdan kepada pers di Jakarta, Senin (7/8).
Sumber: Tarif Listrik Indonesia Lebih Mahal dari Malaysia | Republika Online

Jaksa Agung Sebut Lahan Negara yang Dikuasai DL Sitorus Berpotensi Korupsi


Jaksa Agung, HM Prasetyo, menyebutkan bahwa ada potensi korupsi dari lahan seluas 72.000 hektare di Kecamatan Simangambat, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yang belum diserahkan oleh DL (Darius Lungguk) Sitorus ke negara.
Sumber: Jaksa Agung Sebut Lahan Negara yang Dikuasai DL Sitorus Berpotensi Korupsi