Berkah dari Perut Bumi

Sejak sanksi ekonomi terhadap Iran dicabut pada tahun 2016, maka harga minyak mentah terus jatuh. Saya hadir dalam program pengkaderan partai, Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan bahwa jatuhnya harga minyak disebabkan oleh Arab Saudi yang tidak mau mengurangi jumlah produksi minyaknya. Sementara sanksi terhadap Iran telah dicabut otomatis Iran juga akan memasok minyak ke pasar dunia. Karena produksi tak terkendali dan melampaui demand maka harga minyak jatuh dan menyebabkan pelambatan ekonomi global.
Indonesia adalah salah satu negara yang terimbas dari pelambatan ekonomi akibat jatuhnya harga minyak. Namun Pemerintah telah melakukan langkah-langkah untuk mengantisipasi hal tersebut dengan merubah struktur pendapatan negara secara perlahan-lahan. Dulu pendapatan Indonesia bertumpu pada sektor migas dan non migas sebesar 80% dan dari sektor Pajak sebesar 20% dan perlahan-lahan struktur tersebut dirubah, Pajak menjadi pendapatan utama sebanyak 70% dan 30% bersumber dari migas dan non migas.
Oleh karena itu, dimohon masyarakat jangan menyalahkan Pemerintah atas beberapa kebijakan pencabutan subsidi. Ini semua bertujuan untuk kebaikan bangsa dan negara.
Lihat apa yang terjadi pada Brunei, mereka lengah dan tidak sempat merubah struktur pendapatan negaranya dan tidak merubah struktur Alokasi belanja. Brunei sebentar lagi ambruk. Sementara itu, Arab Saudi juga sedang dalam bayang-bayang kebangkrutan, namun Arab Saudi telah melakukan penyesuaian dengan mencabut subsidi Listrik, Air dan gas. Juga melakukan pemangkasan terhadap gaji menteri dan pejabat tinggi kerajaan.
Kita bersyukur punya Presiden seperti Jokowi dan Menteri Keuangan kelas dunia seperti Sri Mulyani. Berkat racikan-racikannya dalam melakukan formulasi dalam APBN maka pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada diatas 5% meskipun dalam situasi ekonomi dunia sedang melambat. Dan wilayah yang berkontribusi paling tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional tersebut adalah pulau Sulawesi yang berkontribusi sebesar 7,2%. Kalimantan hanya 2%, Jawa 3,5%. Dan ada juga yang minus.
Apa yang menguatkan ekonomi di Sulawesi ditengah anjloknya harga Nickel Ore dan minyak mentah?
Ini harus jadi kebanggaan kita dan harus disupport oleh Pemerintah Daerah, yaitu hasil perkebunan. Hasil perkebunan kita menembus eksport dan tentu menghasilkan US Dollar yang cukup signifikan.
Ketika rupiah lemah dan US Dollar menguat industri di Jawa ikut lemas dan lunglai tapi petani di Sulawesi tersenyum karena harga komoditi naik secara signifikan. Sebagai contoh pada tahun 2016 harga produksi merica ditingkat petani Rp. 40.000/Kg dijual dengan harga FOB sebesar 170.000/kg. Meskipun pada tahun 2017 ini mengalami koreksi menjadi 110.000/kg (FOB). Petani tidak terlalu pusing, lahan merica terus melebar hingga membawa Sultra dan Sulsel berada produsen peringkat 4 dan 5 nasional dari segi jumlah produksi merica. Itu baru satu jenis komoditi perkebunan yang saya ulas, belum komoditi lain seperti kakao, kelapa, mente, cengkeh, biji pala dll.
Karena saya terlalu akrab dengan angka2 seperti ini, pada bulan April 2017 salah satu perusahaan konsultan investasi dari Singapura bernama Gerson Lehrman Group (GLG) menghubungi saya untuk menjadi kontributor dan akan dibayar dollar untuk mempresentasikan prospek investasi perkebunan dan ekspor di Indonesia, tapi saya tidak bersedia karena saya takut jika mereka membawa uang mereka dalam jumlah besar dan membangun industri perkebunan skala besar dan menjadikan kita sebagai budak di negeri sendiri. Saya hanya ingin menjadi narasumber untuk petani dan pengusaha2 lokal.
Ayo menanam..