Beras dan Leadership

Jika ada permasalahan yang terkait dengan pelayanan masyarakat maka semestinya diselesaikan sesuai pada levelnya. Jika masih bisa diselesaikan pada level manajemen ditingkat bawah (low manjer) dan manajemen di tingkat menengah (middle manajer) maka jangan langsung dibawa ke Top Manjer. Sebaliknya mereka yang berada di puncak harus senantiasa mengontrol level-level manajemen yang ada dibawahnya, jika seandainya ada yang tidak terselesaikan maka manajemen pada level puncak harus turun tangan untuk menyelesaikannya.

Suatu hari seorang warga Desa Laulo menghubungi saya, mengadukan tentang nasib warga desanya yang mendapatkan pembagian beras rastra (masyarakat pra sejahtera) yang sudah mulai bertepung. Dia mengirimkan saya foto beras tersebut, dan menanyakan pendapat saya; Apakah beras ini masih layak dikomsumsi? tanya dia padaku.. lalu saya jawab tidak!
Setelah menerima aduan warga desa tersebut saya langsung menghubungi pejabat Pemda Kolaka yang medapatkan tugas untuk pengawasan beras yang didistribusikan oleh Perum Bulog. Dari beberapa orang yang saya hubungi, yang paling tanggap me-respon persoalan beras ini adalah Bapak Drs. H. Kasim Madaria, MSi. Beliau menjabat sebagai Asisten II Pemda Kolaka.
Keesokan harinya beliau sudah berada di kantor Perum BULOG untuk mengurus penarikan dan penggantian beras tersebut, beliau mengirimkan saya foto dokumentasi Berita Acara Penggantian beras sebanyak 500 Kg yang telah didistribusikan di desa tersebut.
Unknown-7
Saya mengapreasiasi kesigapan beliau dalam merespon persoalan ini, saya tidak ingin ini kisah bagus seperti ini berlalu begitu saja, ada pengalaman berharga di dalamnya sehingga saya mengabadikannya dalam menjadi sebuah artikel yang akan saya combinedengan Leadership dan Pengorganisasian agar dapat menginspirasi generasi muda hari ini dan yang akan datang.
Bahwa kepemimpinan bukan sekedar konsep, praktinya dapat kita lihat melalui kisah-kisah yang terjadi disekitar kita, kisah inspiratif tentang kepempimpinan tidak mesti harus diambil dari sosok yang populer seperti para kepala negara atau orang-orang yang terkenal.
Kisah inspiratif beliau ini saya terjemahkan sebagai pesan moral, maklum beliau adalah sosok pendiam sehingga perlu menerjemahkan gesture untuk memahami yang ingin disampaikannya. Dalam pandangan subjektif saya, foto beliau diatas menyampaikan pesan moral sebagai berikut; “bahwa jika ada permasalahan yang terkait dengan pelayanan masyarakat maka semestinya diselesaikan sesuai pada levelnya. Jika masih bisa diselesaikan pada level manajemen ditingkat bawah dan menengah maka jangan langsung dibawa ke level puncak. Sebaliknya mereka yang berada di puncak harus senantiasa mengontrol level-level manajemen yang ada dibawahnya, jika ada yang tidak terselesaikan maka manajemen pada level puncak harus turun tangan untuk menyelesaikannya”. Seperti itulah pembacaan saya terkait foto beliau, dan kepada beliau saya mohon maaf jika tafsiran saya tidak tepat.


Jika setiap persoalan harus bermuara penyelesaiannya pada pimpinan puncak maka tentu ada problem ditubuh organisasi, hal ini dapat kita identifikasi melalui pendekatan stuktur, jika struktur sudah match dan masih saja semua problem belum bisa terselesaikan maka problemnya ada pada Sumber Daya Manusia dari personil yang menempati struktur dan fungsi. Disini seorang pucuk pimpinan atau pemimpin dalam sebuah organisasi harus jeli menempatkan personalia yang cakap untuk membantu dalam mencapai tujuan.
Niccolo Machiavelli dalam bukunya yang berjudul The Princemengungkapkan bahwa Kita harus memilih salah satu antara dicintai atau ditakuti. Keduanya tidak bisa dimiliki dalam waktu yang bersamaan.
Mari kita bedah teori Machiavelli ini dengan melakukan pendekatan kepemimpinan beberapa tokoh. Misalnya Soeharto, walaupun beliau dikenal sebagai sosok pemimpin yang diktator tapi rupanya dirindukan pasca kepemimpinannya oleh banyak orang karena dampak dari kepemimpinannya membawa kestabilan sehingga sasaran repelita bisa berjalan cepat dan sukses. Kelemahannya hanya satu, bawahan bekerja dibawah bayang-bayang ketakutan karena adanya sanksi yang tegas jika tidak tertib. Itulah contoh pemimpin yang ditakuti atau bertangan besi. Sebaliknya, jika kepemimpinan yang mengedepankan belas-kasih (baca: dicintai) hanya menimbulkan pertentangan dan pembangkangan pada level bawah karena tidak jelasnya batas antara prestasi dan pelanggaran. Dampaknya akan menimbulkan ketidakpuasan pada masyarakat dan kecemburuan pada struktur.


Kembali pada pengorganisasian, pada level organisasi, setiap pekerjaan yang tidak mampu diselesaikan oleh bawahan maka harus diatasi oleh atasan, sebagai ilustrasi; jika seandainya dalam suatu hari tukang sapu tidak masuk kerja maka yang bertanggung jawab menyapu adalah level yang berada satu tingkat diatasnya, begitu seterusnya tanggungjawab itu harus ditarik keatas mengikuti alur hirarki hingga pekerjaan tersebut dapat terselesaikan bukan menyembunyikan masalah atau saling lempar tanggung jawab saat pekerjaan tersebut tidak terselesaikan.
Semakin rendah sebuah level manajemen maka biasanya akan semakin teknis dan mudah menyelesaikan sebuah pekerjaan. Dan semakin tinggi level manajemen akan semakin konseptual dan strategis dalam merumuskan perencanaan, pengorganisasian, kontrol dan evaluasi. Mungkinkah prinsip manajemen ini dijalankan?
Inti dari organisasi adalah membagi peran dan mendistribusi kewenangan. Peran kepemimpinan adalah menjamin sistem berjalan dengan baik, entah dengan pendekatan apa (dicintai atau ditakuti). Bila ditambahkan konsep akselerasimaka akan organisasi akan melejit dalam mencapai tujuan. Saya akan mencoba mengulas konsep akselerasi pada kesempatan berikutnya.
Harapan saya, beras senantiasa terus diperhatikan karena ini menyangkut kebutuhan dasar masyarakat. Tentunya, masyarakat merasa puas dengan pelayanan Bapak Drs. H. Kasim Madaria, MSi karena beras sebanyak 500 Kg yang disalurkan di desa tersebut telah ditarik dan digantikan dengan kualitas medium. Saya mengucapkan terima kasih atas perhatian beliau.
Unknown-5
Foto: Bukti Penarikan dan Penggantian Beras di Desa Laulo – Kab. Kolaka

Beras tersebut harganya cukup murah karena mendapat subsidi Pemerintah, adapun kualitas rastra harus mengacu pada pedoman umum subsidi beras rastra, yaitu kualitas medium Perum BULOG sesuai kebijakan perberasan yang berlaku. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pedoman umum rastra (Pedum) klik disini, untuk mengetahui seberapa penting menjaga kualitas beras rastra yang disalurkan kepada masyarakat dapat di klik disini. Dan jiika ingin mengtahui betapa parahnya beras dikuasai oleh para mafia dapat baca disini